Wednesday, March 27, 2013

PEMBUATAN BAGLOG

suplier jual jamur tiram segar, bibit, baglog jamur tiram, olahan jamur, pelatihan budidaya jamur, alat-alat produksi jamur Hp :081945740134 / 0341-8860662 pin BB : 276AE65B. Persiapan alat sebagai berikut :
o Plastik PP ukuran 18x35
o Ring dan tutup ring baglog
o Koran, karet gelang atau bisa digantikan dengan kapas/ dagron/ kain
o Drum, karet ban, plastik penutup drum
o Bahan bakar ( kayu, elpiji )
o Bibit F2 / starter
o Tungkai untuk bibit
o Bunsen + spirtus
o alkohol
1. Persiapan bahan baku
Bahan baku yang terdiri atas serbuk gergajian kayu, bekatul, kapur serta air disiapkan sesuai dengan kebutuhannya. Perbandingan kebutuhan bahan – bahan tersebut adalah seperti pada tabel berikut ini.

Formula Bahan Untuk Pembuatan Baglog Jamur Tiram
Formulasi Serbuk Kayu (kg) Bekatul (kg) Kapur (kg)
I 100 15 5
II 100 20 2,5
III 100 10 2,5
IV 100 10 5

Pada tabel ini terdapat berbagai formulasi bahan untuk pertumbuhan jamur tiram.hal tersebut berdasarkan pengalaman masing-masing pengusaha yang dilakukan di tempat yang berbeda yang lebih menguntungkan. Biasanya setiap pengusaha jamur tiram mempunyai formulasi khusus. Berdasarkan tabel dapat dipilih salah satu formulasi yang sesuai dengan kondisi tempat budidaya.




2. Pencampuran Bahan
Bahan-bahan untuk pembuatan baglog yang telah ditimbang sesuai dengan kebutuhan selanjutnya bahan –bahan dapat dicampur. Pencampuran dapat dilakukan secara manual dengan tenaga manusia apabila kapasitas produksinya masih kecil. Namun, jika produksi cukup besar maka pencampuran dilakukan dengan mesin pencampuran (mixer). Pencampuran harus dilakukan secara merata. Dalam proses pencampuran diusahakan tidak terdapat gumpalan, terutama serbuk gergaji dan kapur, karena dapat mengakibatkan komposisi campuran media yang diperoleh tidak merata. Semua bahan dicampur sampai merata. Dengan meratanya campuran media sangat berpengaruh baik terhadap pertumbuhan jamur.

3. Pengomposan
Pengomposan dilakukan dengan cara membumbun campuran bahan media kemudian menutupnya scara rapat dengan menggunaan plastik selama 1-2 hari. waktu pengomposan selama 2-5 hari, dan selama pengomposan dilakukan pengadukan sebanyak 3-4 kali. Proses pengomposan yang baik ditandai dengan kenaikan suhu menjadi sekitar 50C.
Kadar air campuran atau kompos harus diatur pada kondisi 50-65% dengan tingkat keasaman (pH) 6-7. Secara sederhana, untuk mengetahui kadar air 50-65% dapat dilakukan dengan membuat gumpalan adonan dengan cara mengepalkan adonan. Apabila gumpalan dalam kepalan mengeluarkan air terlalu banyak maka kandungan air dalam bahan tersebut terlalu tinggi. Adonan yang baik adalah bila adonan itu dikepal membentuk gumpalan, tetapi mudah dihancurkan kembali. Adonan yang terlalu banyak mengandung air memacu pertumbuhan mikrobia yang lain, terutama dari jenis kapang, yaang dapat merusak media (media tumbuh maupun jamur yang tmbuh menjadi cepat busuk). Air berfungsi dalam penyerapan nutrisi oleh miselium. Air yang digunakan haruslah air yang bersih untuk mengurangi risiko kontaminasi organisme lain dalam media.
Tingkat keasaman atau pH media dapat diketahui dengan menggunakan kertas Ph. Seperti telah diuraikan bahwa tingkat keasaman (pH) yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dari 6-7 akan menghambat pertumbuhan jamur.



4. Pembungkusan
Media campuran tersebut di atas kemudian dimasukkan ke dalam kantung plastik tahan panas (PE 0,4) yang transparan. Pembungkusan ini dilakukan dengan cara memasukkan adonan ke dalam plastik kemudian adonan itu dipadatkan dengan menggunakan tangan atau alat yang lain. Media yang kurang padat akan menyebabkan hasil panen yang tidak optimal karena media cepat membusuk sehingga produktivitas menurun.

5. Sterelisasi/Pasteurisasi baglog
Sterelisasi/Pasteurisasi baglog bertujuan untuk mencegah pertumbuhan semua jasad hidup yang berada di dalam baglog/substrat tanam yang mungkin terbawa bersama bahan baku yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur yang ditanam.
Cara sterelisasi ini menggunakan alat oven/steamer . sterelisasi dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya dengan udara panas, atau dengan tekanan tinggi, dan sebagainya. Sterelisasi baglog/substrat tanam jamur dapat dilakukan dengan menggunakan uap air panas bertekanan tinggi yaitu pada temperatur uap air sekitar 100C dan tekanan 1 atmosfir / 2 bar. Sterelisasi yang dilakukan pada temperatur 80C-90C memerlukan waktu antara 7-8 jam, sedangkan sterelisasi pada temperatur diatas 90C memerlukan waktu selama 4 jam.
Beberapa alternatif cara sterelisasi sebagai berikut:
a. Sterelisasi sederhana menggunakan drum bekas
Salah satu cara sterelisasi sederhana dengan membuat bejana sterelisasi sendiri dari drum bekas yang bisa memuat lebih kurang 500 baglog. Bagian dalam bejana dibagi 2 bagian,yaitu bagian bawah dan bagian ata. Bagian bawah, dgunakan sebagai tempat air yang akan dipnaskan dan menghasilkan uap air panas. Bagian atas, digunakan sebagai tempat baglog/substrat tanam yang akan disterilkan. Bagian bawah dan bagian atas dibatasi degan kawat kasa ataupun penghalang lain yang terbuat dari anyaman bambu.
Kegagalan stereisasi dengan cara seperti di atas antara lain disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
• Temperatur yag diperlukan, yaitu temperatur diatas 85C , tidak tercapai atau tidak tersebar secara merata ke tiap substrat tanam yang berada di dalam drum.
• Waktu pemanasan terlalu singkat, rata-rata kurang dari lima jam, sehingga bibit jamur liar yang terdapat di dalam substrat tanam dalam bentuk spora tidak mati.
• Tekanan uap air panas yang diperlukan tidak tercapai sehingga banyak jasad kontaminan (berbentuk spora jamur)akan tumbuh.
Nilai kontaminasi yang lebih dari 30% tentu saja merupakan kerugian yang sangat besar. Jika jumlah baglog/substrat tanam yang disterilkan lebih dari 1000 buah maka jumlah yang terkontaminasi lebh dari 300 buah.


Penanaman Bibit (Inokulasi) dan pemeliharaan
Setelah media selesai disterilkan diamkan dan dinginkan Salah satu faktor yang menentukan terhadap keberhasilan budi daya jamur tiram adalah faktor kebersihan dalam proses budi daya, baik kebersihan tempat, alat, maupun pekerjanya. Hal ini karena kebersihan adalah hal yang mutlak harus dipenuhi. Oleh karena itu, tempat untuk penanaman sebaiknya dibersihkan dahulu dengan sapu, dan lantainya dibersihkan dengan desinfektan. Alat yang digunakan untuk menanam juga harus disterilisasi menggunakan alkohol dan dipanaskan diatas api lilin. Selain itu, selama penanaman para pekerja idealnya juga menggunakan masker. Ini semua tujuannya adalah untuk menghindari atau memperkecil kemungkinan terjadinya kontaminasi.
Bagaimana proses penanaman (Inokulasi) bibit jamur tiram berikut ini caranya :
1. Siapkan baglog yang telah disterilisasi sebagai media (tempat) penanaman bibit. Kemudian bukalah sumbatan baglog apabila perlu cincin baglog juga dibuka. Perlu diperhatikan bahwa peralatan untuk menanam harus selalu dalam kondisi steril, caranya dengan membakarnya diatas api terlebih dahulu.
2. Siapkan bibit F2, kemudian ambil dan taburkan sebanyak satu sendok makan bibit semai pada baglog media (inokulasi). Lantas tutuplah baglog dengan sumbat kapas/ tutup koran dan ikat kembali dengan cincin paralon.
3. Setelah proses inokulasi selesai, baglog yang telah ditanami(diberi) bibit jamur tirm putih dipindahkan ke ruang inkubasi untuk pertumbuhan miselium (bakal jamur)
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam inkubasi adalah sebagai berikut :
a. Inkubasi area harus benar-benar tempat yang bersih. Untuk memastikannya, sebaiknya sterilkan ruang inkubasi dengan menyemprotkan formalin 2% di sekitar rak inkubasi.
b. Pada awal peletakkan baglog di rak inkubasi, sebaiknya tidak terlalu banyak cahaya dan sirkulasi udara. Tapi setelah kurang lebih 1 minggu- 10 hari, tamahkan cahaya dan sirkulasi udara yang cukup.
Tempat rak inkubasi sebaiknya bersuhu kamar rata-rata 25-28C, dengan kelembaban udara antara 80% - 90%, dan pancaran cahaya 500 lux. Jika suhu pada ruangan inkubasi terlalu tinggi diatas 32C,biasanya terlalu beresiko dan dapat menyebabkan kegagalan tumbuh miselium.hal ini disebabkan pertumbuhan miselium sangat rentan terhadap bakteri thermofilik.jika kelembaban kurang dari 80%, maka baglog/substrat tanam akan megering. Agar kelembaban terjamin, lantai ruangan perlu disiram pagi dan sore hari, dengan menggunakan air bersih. Kelembaban yang tinggi juga kurang baik, karena bisa menyebabkan kandungan air di dalam baglog menjadi tinggi. Hal ini akan menyebabkan pertumbuhan jamur liar yang tidak diharapkan dalam jumlah yang banyak. Jamur liar ini merupakan jenis jamur hama yang akan menghambat pertumbuhan jamur yang ditanam.
c. Selama pemeliharaan pertumbuhan miselia jamur di dalam media bibit harus dilakukan pemeriksaan. Apabila ada yang gagal kembalikan lagi untuk disterelisasi dan diberi bibit (inokulasi). Dan jika terdapat petumbuhan serat-serat bewarna gelap(hitam, coklat, hijau, biru atau merah) yang menandakan kehadiran jamur liar yang tidakdiharapkan, maka jamur kontaminasi harus segera dipisahkan dan dibakar, karena akan menjadi sumber gangguan terhadap jamur yang ditanam, sehingga pertumbuhan jamur di dalam baglog akan terhenti/terganggu. Jika pertumbuhan jamur liar sudah memenuhi baglog, sebaiknya baglog dimusnahkan dengan cara dikubur atau dibakar. Dan jika ada baglog yang menghasilkan jamur dalam jumlah yang sangat sedikit dan berukuran kecil-kecil juga perlu diganti secara keseluruhan dengan yang baru.
d. Setelah 10 – 15 hari akan tumbuh miselia bibit. Setelah 40 – 60 hari pertumbuhan miselia akan memenuhi permukaan media (berwarna putih). Namun pemindahan baglog dari ruang inkubasi ke rumah kumbung (mushroom house) sebaiknya diakukan saat miselium telah mencapai lebih dari 30%

2 comments: